• Kisah hidup Abraham/Ibrahim A.S. adalah contoh paling apik dari pencapaian spiritual manusia.
  • Jilbab, kerudung, hijab dan berbagai macam nama lain dari benda ini memang sesuatu yang tertulis di dalam teks Al-Quran dan Hadist, bahkan dapat dikatakan saat ini, bahwa Islam yang melegalisasi penggunaannya sehingga banyak kita lihat sehari-hari.
  • Beberapa waktu lalu media dihebohkan dengan salah satu berita penangkapan seorang Aktris bersuamikan pengusaha konglomerat yang diketahui menyalahgunakan narkoba. Alasannya sederhana, tekanan pekerjaan akibat pandemi.
  • Fenomena drakor dengan pecintanya yang menjamur di Indonesia cukup menarik. Umumnya para pecinta drakor adalah wanita (cewe-cwe) dengan kadar militansi yang berbeda-beda.
  • Download Materi Belajar JLPT/ Nihongo Nouryoku Shiken (Noken) N4- N5
Tampilkan postingan dengan label philosophy. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label philosophy. Tampilkan semua postingan

Minggu, 10 Juli 2022

Sedikit Menoleh kembali kepada Abraham A.S. (Idul Adha 1443H)




Kisah hidup Abraham/Ibrahim A.S. adalah contoh paling apik dari pencapaian spiritual manusia. Dia benar-bernar menjalani proses seperti judul buku Prof. Jeffry Lang, “Struggling to Surrender” (arti:berjuang untuk berserah). Pencapaian tertinggi spiritualitas dan ketauhidan Abraham ditempuh melalui proses rasional dan dialektika iman yang panjang di masa muda. Abraham menjadi pribadi yang sangat kritis dan analitis. Dia mampu mempertanyakan kebenaran praktik paganisme yang lumrah di lingkungan keluarga dan mayarakatnya. Dia berpikir, berdebat dan mencari hakekat Tuhan sebagaimana dalam persepsi akalnya. Setelah Abraham A.S. berdialektika dengan akalnya, Dia sampai pada kesimpulan bahwa berhala-berhala yang dibuat ayahnya dan pemujaan di Kuil oleh kaumnya adalah ekspresi keimanan yang sesat. Secara logis, tidak mungkin Tuhan diciptakan oleh tangan manusia. Tuhan juga tidak mungkin lemah dan hancur ketika dipukul oleh Abraham di Kuil Sin. Perjalanan dialektika keimanannya juga sempat singgah pada henoteisme, di mana Dia mengamati benda-benda langit, mencari sosok The Supreme Being, sosok yang paling berkuasa di dunia.




Namun kisah Perjuangan masa muda Abraham yang sangat rasionalis itu agaknya berbanding jauh dengan kisah masa tuanya yang penuh keberserahan dan beberapa perbuatan (yang dianggap) irrasional. Bisa dilihat dari kepasrahannya dalam memperoleh keturunan, tindakannya yang meninggalkan anak dan istri ke 2 nya di lembah tandus (ka’bah), meninggikan ka’bah, hingga upaya menyembelih anaknya sendiri. 

Tentu dalam hal ini Abraham tidak lagi mengutamakan akal seperti masa mudanya. Dia telah mencapai tingkatan spiritual yang menyadarkannya bahwa akal tidak mampu menggapai semua hal di alam semesta ini. Dia menyadari bahwa Tuhan menginginkan kita berjuang walaupun pada akhirnya kita hanya dapat berserah.

Kita harus melihat kisah Abraham ini sebagai suatu proses hidup yang harus dicontoh. Bahwa perjalanan kita dalam spiritualitas dan agama harusnya melalui proses rasional dan dialektis. Dalam tingkatan ini, kita seharusnya masih ditahap menggunakan instrumen akal sehat kita dalam beragama, tetap berusaha mencari jalan logis menghadapi setiap pertanyaan dan permasalahan dalam hidup, terus bekerja keras serta menyerahkan bagaimanapun hasilnya kemudian kepada Tuhan. 

Bukan sebaliknya, memulai beragama dengal hal-hal diluar nalar, menggali berbagai hal klenik, makulat, metafisik, apalagi metafakta, seperti kasus yang sedang heboh saat ini.

Di momen hari Raya Idul Adha kali ini, dengan menyembelih hewan kurban, membagikan dagingnya kepada orang-orang kurang mampu, mari kita juga meneladani kisah Abraham A.S.

Selamat Hari Raya Idul Adha 1443 H (09 Juni 2022 M)

Jumat, 14 Januari 2022

Jilbab NGGAK WAJIB buat perempuan


Jilbab, kerudung, hijab dan berbagai macam nama lain dari benda ini memang sesuatu yang tertulis di dalam teks Al-Quran dan Hadist, bahkan dapat dikatakan saat ini, bahwa Islam yang melegalisasi penggunaannya sehingga banyak kita lihat sehari-hari. Tetapi di sisi lain teks-teks terkait jilbab dan teman-temanya itu dapat diinterpretasikan lain, sehingga penafsirannya juga menjadi sangat beragam.

Tulisan ini tidak akan menambah keramaian debat tentang hijab dalam perspektif Islam. Pertama karena saya bukan ahli di bidang itu, dan kedua karena tulisan-tulisan tentang hukum ber-jilbab/hijab sudah banyak berserakan baik secara luring atau daring. Tinggal meluangkan waktu dan kejernihan pikiran saja untuk mencari dan membacanya.

Dalam tulisan ini, saya hanya berupaya menyegarkan cara pandang universal kita terhadap jilbab, dengan mengajak kita semua menggali secara esensial fenomena jilbab/hijab dalam perspektif budaya masyarakat dan pandangan terhadap perempuan.

Kita mulai dari fakta bahwa perempuan memiliki daya tarik alamiah pada tubuhnya. Tubuh perempuan selalu dinilai dan diamati, lebih sering bukan oleh diri mereka sendiri saja, tetapi juga oleh masyarakat. Hal ini yang memunculkan sekat-sekat dalam norma dan beban sosiologis pada perempuan yang terkait dengan tubuhnya. Sederhananya begini,  ketika laki-laki tampil jelek maka mereka tidak akan mendapatkan beban sosiologis seberat perempuan, dan ketika pun si laki-laki itu tampil luar biasa ganteng, mereka juga tidak akan mendapatkan penghargaan atau perhatian yang berlebihan seperti halnya yang diterima oleh perempuan yang berpenampilan cantik.

Kalau kita lihat cerminannya dalam budaya populer saat ini, akan tampak nyata misalnya dalam film animasi, terdapat kisah Shrek, Beauty and The Beast, dsb., di situ digambarkan secara gamblang bahwa laki-laki itu sangat boleh untuk buruk rupa, dan dia tetap bisa disebutkan sebagai pria sejati. Tetapi hal itu tidak mungkin berlaku bagi perempuan. Selain itu, kita sering mendengar banyak sekali tulisan-tulisan atau perkataan yang menyebut bahwa laki-laki semakin tua semakin tampan, dan itu tidak mungkin berlaku bagi perempuan. Eksploitasi perempuan terkait dengan masalah tubuh ini saya pikir memiliki dasar yang harus menjadi  perhatian.

Ada dua pandangan yang harus diperhatikan, yang pertama adalah bahwa perempuan itu menarik secara seksual terhadap pihak yang lebih kuat dan lebih berkuasa daripada dirinya sendiri. Oleh karenanya, si pihak yang lebih berkuasa bisa saja melakukan kecelakaan dan kekerasan pada si perempuan kalau dia menginginkannya. Yang kedua, tubuh Perempuan itu dianggap sakral karena kehidupan manusia memang berasal dari rahim perempuan. Dengan pandangan ini perempuan akan dilindungi, tetapi perlindungan itu sering kali membuat perempuan dibatasi.

Selanjutnya agar lebih jelas, saya coba mundur ke belakang melihat masa lalu dan membandingkannya. Saya pikir dibandingkan dengan masa lalu tidak ada sistem keamanan yang sebaik hari ini, di mana kejahatan dapat dibuktikan dan diadili relatif lebih mudah. Pada masa lalu, kejahatan misalkan pembunuhan, pencurian, pemerkosaan, dsb. sebagian itu tidak bisa diproses secara hukum karena tidak ada institusi atau lembaga hukum memadai dan menyeluruh seperti sekarang. Dan lebih gawatnya lagi, perempuan sangat mudah untuk menjadi objek kekerasan dengan motif yang beragam pula.

Untuk mengatasi hal ini, masyarakat masa lalu membuat berbagai kebiasaan berupa perlakuan-perlakuan khusus pada perempuan. Kebiasaan ini berkembang menjadi kultur dan beberapa mitos yang melekat pada perempuan, bahkan hingga saat ini.

Misal orang dahulu biasanya menikahkan anak perempuannya lebih awal, kenapa begitu? Tentu agar anak perempuannya mendapatkan perlindungan dari suaminya, dan ini pula menjadikan adanya tradisi menambahkan nama suami pada perempuan. Hal ini masih menjadi budaya yang kita rasakan di Indonesia, karenanya kita sering dengar panggilan-panggilan “Ibu Ruswan”, “Ibu Handoko” dll. bukan si ibu namanya Ruswan atau Handoko, tapi itu nama suaminya kan. Nah kenapa bisa seperti itu? ya penjelasannya sederhana, karena di masa lampau perempuan sangat rentan terhadap kekerasan maka mereka harus melabeli namanya dengan nama suaminya.

Kemudian mitos diciptakan dalam kisah-kisah horor yang dihubungkan dengan perempuan untuk melindungi dari kejahatan-kejahatan yang tidak mungkin bisa diatasi oleh hukum tertulis. Seperti kisah kuntilanak dan sundel bolong yang sangat familier di telinga kita. Sosok-sosok hantu ini menjadikan ketika ada perempuan jalan sendirian malam hari, laki-laki akan berpikir dua kali untuk berbuat jahat, karena bisa jadi itu adalah hantu. Kalaupun itu adalah perempuan asli (nyata), lalu kemudian diperkosa dan mati, akan ada anggapan dia akan menuntut balas dengan mencari siapa yang pernah memperkosa dan membunuhnya. Jadi saya pikir cerita-cerita horor di masa lalu yang dikait-kaitkan dengan perempuan biasanya adalah untuk melindungi perempuan itu sendiri.
(Jadi bisa ni kita pikirkan dari sekarang untuk menjadikan Kuntilanak sebagai tokoh feminis  di Indonesia... 😊 )

Lanjut lagi, cara masyarakat untuk bisa melindungi perempuan adalah dengan memingit perempuan yang belum menikah. Perempuan dikurung di dalam rumahnya agar tidak terjadi masalah ketika keluar rumah. Kalaupun mau keluar, tidak boleh sendiri, boleh dengan keluarganya atau dengan perempuan lain. Ya misalnya keluar bareng buat nyuci di sungai, yang di beberapa tempat masih kita lihat sekarang.

Cara lain melindungi perempuan juga dilakukan dengan mengurangi daya tarik erotis alami yang dimiliki perempuan. Saya melihat ada kesadaran konvensional  masyarakat di seluruh kebudayaan dunia,  bahwa rambut perempuan yang terurai adalah bagian tubuh yang memiliki daya tarik erotis. Oleh karena itu, masyarakat zaman dahulu mengurangi pesan-pesan seksual yang secara alamiah ada pada perempuan dengan melakukan berbagai treatment untuk menghalangi laki-laki melihat langsung rambut perempuan yang terurai. Dari sini kita bisa melihat banyak kebudayaan melakukannya, misalnya kebudayaan Jawa dengan konde-nya, kebudayaan Jepang dengan Nihongami-nya, kebudayaan korea dengan Jjokjin Meori-nya, dan banyak lainnya. Semuanya biasa dilakukan dengan mengikat, mengepang, menyanggul dan memberikan aksesoris di bagian rambut perempuan. Bahkan bentuk rambut menjadi identitas sosial perempuan. Para perempuan terhormat (bangsawan) umumnya dalam kebudayaan-kebudayaan masyarakat lampau tidak mengurai rambutnya, dan perempuan yang rambutnya terurai memiliki kesan tidak baik. Bahkan di Jepang jika perempuan rambutnya terurai dianggap sama halnya seperti telanjang.

Jilbab/Hijab juga merupakan salah satu produk kebudayaan masyarakat dengan ide dasar yang sama, yaitu untuk mengurangi daya tarik seksual perempuan. Saya tidak spesifik menyatakan masyarakat mana karena faktanya tradisi menutup rambut dengan kain semacam jilbab/hijab ada di berbagai kebudayaan, tidak hanya ada pada masyarakat Arab. Masyarakat Yunani dan Eropa dahulu juga menutup rambutnya dengan kain sebagai tanda kehormatan dan kesucian.

Jadi ketika berbicara tentang jilbab/hijab maka sudah seharusnya kita tidak harus berpikir soal budaya Islam atau tradisi Arab. Ya memang nama hijab, jilbab atau niqab dan lain sebagainya itu memang berasal dari sana, tetapi itu hanya sebatas istilah. Secara keseluruhan, upaya manusia (atau upaya masyarakat) untuk menurunkan daya sensualitas perempuan memang sudah dilakukan sejak awal dengan pertimbangan-pertimbangan yang dijelaskan di atas.

Selain itu, Jilbab, hijab atau kerudung itu adalah salah satu cara yang portable, paling praktis dan paling anggun untuk bisa melindungi perempuan. Hal ini karena secara konsep, jilbab/hijab mengisi perannya seperti halnya berbagai kebudayaan yang ada, sama halnya dengan rumah pingit, dan treatment serta hiasan rambut. Satu hal yang paling penting untuk digaris bawahi, bahwa jilbab/hijab adalah bukan berawal dari Islam. Walaupun kemudian Islamlah yang mungkin melakukan legalisasi terhadapnya kini. 

Minggu, 03 Maret 2019

Adilkah Tuhan?


Sumber Gambar: Dokumentasi Pribadi
Jika mencoba melihat lebih peka keadaan diri dan lingkungan sosial kita, akan banyak sekali hal yang kita anggap kurang, bahkan tidak memuaskan. Hal-hal terkait dengan kemakmuran, kesejahteraan, kualitas hidup, kualitas spiritual dan lain sebagainya yang sering kita lihat di dalamnya banyak terjadi kesenjangan. Dalam hal demikian negeri ini tidak mungkin kehabisan contoh. Kita dapat melihat di satu tempat di negeri ini ada sekelompok orang yang sangat kaya, namun di tempat lain juga terdapat sekelompok orang yang sangat miskin. Banyak orang cerdas dengan gelar akademis yang menawan, tapi tak sedikit juga orang yang buta aksara. Ada banyak orang alim yang taat pada agama, tapi banyak juga orang tak peduli dengan Tuhannya. Semua ini terkadang menimbulkan pertanyaan dalam diri kita, "kenapa ya jalan hidup dan nasib orang berbeda-beda?. Kok rasanya Tuhan tidak adil ya? Ada yang hidupnya susah, tapi kok yang lain bahagia? Ada yang urusannya mudah, yang lain kok urusannya susah? Ada yang mudah menerima hidayah, yang lain kok susah? Dan banyak lagi. Intinya bertanya tentang di mana letak keadilan Tuhan. 

Hal seperti ini jika terus berkecamuk di pikiran, dapat menyeret kita pada "ke-galau-an spiritual". Karena kalau terus-menerus dibiarkan tanpa adanya jawaban yang memuaskan, bisa-bisa berujung pada sikap apatis, pesimisme dan fatalisme (terlalu pasrah dan mudah menyerah). 

Sebenarnya keadilan Tuhan tidak semua bisa diungkap dengan kata dan realitas empiris (sesuatu yang dapat diakses oleh indera). Tapi keadilan Tuhan bisa saja berupa satu realitas metafisis (sesuatu yang berada di luar jangkauan indera manusia) yang sengaja tidak diungkap dan disimpan-Nya. Oleh karena hal tersebut disimpan, Tuhan menjadi adil. 

Semisal ada seseorang yang hidupnya susah. Walau sudah bekerja keras, namun Tuhan belum juga mengubah nasibnya. Segala jalan telah ditempuh, namun tidak ada perubahan. Apakah Tuhan tidak adil? Karena banyak orang lain yang kadang hanya duduk-duduk di hotel dan restoran mewah bisa mendapatkan kontrak besar yang bisa kaya dengan mudah. 

Tentu Tuhan tetap adil. Ada rahasia yang hanya Dia yang tahu hikmahnya. Kalau coba mereka-reka, bisa saja hikmah itu ditafsirkan. Misalnya, andaikata dia diberi kemudahan dan dinaikkan derajatnya menjadi orang kaya, jangan-jangan orang ini bisa menjadi sombong atau lebih parah menjadi kufur. Bisa saja kekayaannya menyebabkan dia lupa pada Tuhan. Dengan kekayaannya justru dia berpotensi menjadi hamba durhaka yang tidak mau melaksanakan perintah Tuhan. Malah sebaliknya, kekayaannya dipergunakan untuk berbuat maksiat dan membuat kejahatan. 

Lihatlah, ada banyak orang kaya yang justru tidak bahagia. Hidup di rumah mewah, namun hatinya kosong. Setiap hari hidupnya susah dan gelisah. 
Sebaliknya, ada orang yang hidupnya sederhana atau relatif susah, tapi bahagia. Dia punya waktu banyak untuk beribadah. Ibadah membuat dia tenang dan lebih bahagia. Kedekatannya dengan sang maha pencipta membuat hidup terasa indah dan bermakna. 

Keadilan Tuhan tidak selalu harus dipertanyakan. Yakinlah Tuhan punya rencana di balik semua peristiwa yang terjadi pada hamba-Nya. Yakinlah bahwa Tuhan selalu mengasihi dan cinta pada seluruh hamba-Nya. Setiap makhluk di dunia, bahkan hewan dan tumbuhan pun tidak pernah luput dari anugerah dan kasih sayang-Nya. 

Kita tidak perlu bersedih tentang kegagalan, kesulitan dan pengalaman pahit yang pernah kita alami. Justru kita harus terus bangkit. Karena Man kana yaumuhu khairan min amsihi fahuwa rabihun.. (barang siapa yang hari ini lebih baik dari pada kemarin maka dia termasuk orang yang beruntung..). Jalanilah hari dengan hal-hal yang bermanfaat baik untuk diri sendiri, keluarga, teman dan bahkan bagi semua orang. 

Wallahua'lam.


Sabtu, 15 November 2014

Ber-Tuhan tapi tidak be-ragama??

Sumber Gambar:http://www.quotesvalley.com/quotes/god/page/293/

Dalam tulisan sebelumnya saya mencoba membawa kita semua pada persepsi bahwa tidak ada manusia yang tak ber-Tuhan. Ber-Tuhan adalah konsekuensi bagi kita yang hidup. Dan bagaimana perwujudan Tuhan dalam kehidupan, semua itu diserahkan kepada diri kita masing-masing.
            Kemudian dari sini akan timbul pertanyaan, bagaimana kaitannya dengan agama? Apa kaitan Tuhan dengan Agama? Bagaimana jika menyatakan diri bertuhan namun menolak Agama?
Kita akan mulai dengan yang paling dasar tentang agama. Yaitu istilah dan  pengertiannya. Istilah agama berasal dari bahasa Sanskerta, āgama yang berarti ‘tradisi’. Dalam bahasa inggris agama disebut ‘religion’ yang berasal dari bahasa Latin religio dan berakar pada kata kerja re-ligare yang berarti "mengikat kembali". Maksudnya dengan beragama, seseorang mengikat dirinya kepada Tuhan. Agama adalah ajaran, sistem yg mengatur tata kepercayaan dan peribadatan kpd Tuhan serta tata kaidah yg berhubungan dengan pergaulan manusia dan manusia serta lingkungannya.



Kalau coba kita analogikan, jika bulan adalah Tuhan, maka serangkaian pelatihan dan aturan untuk menaiki pesawat ruang angkasa untuk ke bulan adalah ‘agama’.  Singkatnya, agama harus berisi tentang cara dan jalan yang membawa kita kepada Tuhan atau paling tidak lebih dekat dan mengenal Tuhan. Nah, bagaimana jika anda ingin ke bulan dan merasa siap pergi ke bulan namun prosedurnya dipersulit dengan berbagai hal yang tidak mencerminkan tujuan utama. Yaitu menuju bulan. Misalnya ketika anda ingin ke bulan anda malah diperintahkan belajar bernyanyi secara merdu setiap minggu. Tentu tidak ada hubungannya kan? Inilah analogi tentang fenomena keagamaan yang terjadi pada umat beragama sekarang. Segolongan manusia menyadari hal ini dan mulai merasa ada yang salah dengan agama dan berkembang pada pemikiran ‘tidak penting beragama’.



Percaya Tuhan dan tidak percaya dengan agama adalah pemikiran yang mulai banyak dianut masyarakat dunia lebih khusus pada para intelektual2 di barat dewasa ini. Mereka  lebih meyakini Tuhan dengan memilih jalan spiritualitas ketimbang agama. Ini  didasari pada kesadaran bahwa setiap manusia memiliki dimensi spiritualitas dalam dirinya. Dimensi spiritualitas yang pada dasarnya merupakan sebuah perjalanan dan pengembaraan ke dalam diri manusia sendiri, pengembaraan dalam upanya mengenal dimensi batin diri. Dimensi dimana kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi tak mampu menjangkaunya. Pada dimensi ini mereka akan merasa menemukan Tuhan.
Disisi lain persepsi masyarakat barat terhadap agama sekarang ini banyak dicemari oleh pengalaman kelam sejarah, dimana orang-orang yang mengaku pembesar agama menampilkan agamanya dengan mitos-mitos dan takhayul yang mengekang kebebasan berfikir dan ilmu pengetahuan. Agama dijadikan alat politik untuk memperoleh kekuasaan yang lalim. Agama yang pernah hadir dalam sosok seperti ini menjadi penyebab pemikir seperti August Comte secara radikal berkesimpulan bahwa dalam masyarakat saintifik agama tak lagi memiliki porsi yang diperhitungkan, bahkan dianggap sebagai sisa-sisa keterbelakangan dari masa lampau.
Sampai sekarang pun  degradasi Agama seperti ini masih tetap berlangsung. kebanyakan Agama sekarang terkesan hanya akan mengajak kita untuk terlibat dalam aturan-aturan yang rumit, perdebatan dan permusuhan dengan sesama. Dalam kasus lain agama hanya membawa kita pada gerakan ideologi terutup yang ekslusif. Sifat eksklusifitas agama ini cenderung membawa pada sifat tidak toleran dan Persaingan yang nantinya akan menjadi sumber derita bukan kedamaian, keselamatan dan kasih sayang. Beginilah beberapa anggapan orang yang berfikir agama tak lagi penting.
Seebagai contoh, Jika kita coba nyatakan kepada mereka misalnya, Islam adalah agama damai, dan mengapa tidak mencoba mendalaminya ?” mereka akan menjawab , “ maaf, yang kami kenal tentang umat islam adalah masyarakat yang tidak mencerminkan hidup damai. Secara fisik  mereka sangat senang bentrok dan secara intelektual sering mengesankan tidak toleran. Oleh karena itu kami kurang tertarik dengan agama, tetapi kami tetap merindukan Tuhan.”
            Dari sini coba Saya simpulkan bahwa percaya kepada Tuhan tanpa agama adalah suatu hal yang tidak dapat kita justifikasi sebagai suatu kesalahan. Tapi lebih kepada balasan atas ketidakmampuan orang yang mengaku beragama untuk menampilkan bahwa agama adalah jalan terbaik untuk mengatasi problematika dunia dan rahmat bagi semesta alam.
Saya hingga saat ini meyakini semua agama, baik agama wahyu ataupun bukan, semua pada akhirnya akan berdiri dihadapan sejarah untuk diuji. Sejarah akan menunjukkan hasil seleksinya, bahwa sebagian agama ternyata telah ditinggalkan  orang dan sebagian bertahan dengan modifikasi dan sebagian terus hidup tegak dan banyak pengikutnya. Kelak Kita hanya akan menjadi saksi untuk diri kita sendiri dan semua jalan yang kita pilih. BerTuhan namun Tidak beragama adalah pilihan yang juga harus kita hargai dan maklumi. Kemudian sebaliknya kita yang mengaku bertuhan dan beragama harusnya menampilkan jalan keberagaman yang baik, santun dan berperan aktif dalam kemaslahatan manusia dan lingkungan.
rahmatalill ‘alamin.*

Lagi-lagi Tuhan

-Abdul Ghafur-

Sumber Gambar : http://www.slideshare.net/mayanknaugaien/god-imagination-or-reality-v10-feb09


“aku tidak percaya tuhan...” jika ada yang berkata begini aku selalu terpancing untuk bertanya. “lantas apa yang kamu percaya di dunia ini?” dan apapun jawabanya aku pasti sudah mempersiapkan diriku untuk tersenyum dihadapan orang itu.
            Pernyataan ini sebenarnya bukanlah hal baru dalam sejarah kehidupan manusia. Nietzschen misalnya, seabad yang lalu ia berani mengatakan dengan tegas “gott is tot” (tuhan sudah mati) istilah ini menjadi populer dan masih didebatkan hingga sekarang.
Pernyataan Nietzschen ini sebenarnya dapat dipahami sebagai pengumuman akan kematian kehidupan spiritualnya beserta teman-teman yang senasib dengannya. Ini dikarenakan warisan agama yang mereka pahami tentang tuhan bukanlah hal yang mampu mendekatkan mereka pada keagungan, kedamaian, keindahan Ilahiah, melainkan suatu bentuk dongeng-dongeng, takhayul dan mitos yang tampak sebagai penghalang dalam kebebasan dan kreasi berfikir serta otonomi manusia.
            Sekarang kembali kepada pertanyaan “apa itu Tuhan?” kalau kita coba definisinkan secara umum, Tuhan adalah dzat yang maha ada yang menciptakan dan mengatur segala sesuatu yang ada dialam semesta. Pengertian ini lebih bersifat eksistensi. Namun jika lebih menyelam untuk pengertian yang lebih esensi, maka dari pengertian diatas juga terkandung bahwa Tuhan adalah segala sesuatu yang manusia persepsikan memiliki kekuatan dan kuasa yang melebihi  manusia sendiri.
Dari persepsi tersebut akan muncul sebuah keyakinan. Keyakinan akan bermetamorfosa menjadi keimanan ketika didalamnya tercakup kecintaan, ketakutan dan pengharapan.
Sehingga singkatnya, Tuhan adalah apa yang paling kita cintai, paling kita takuti dan paling kita berharap padanya. Dan ketiga hal ini sangat tidak mungkin tidak dimiliki oleh manusia di dunia. Ketiga hal ini bisa terpatri pada barang-barang dunia, seperti harta kekayaan, istri, anak, orang tua, akal, pemikiran bahkan diri sendiri. Semua bisa saja menjadi berhala-berhala yang dituhankan.  Seorang jendral yang mengaku atheis pun, ketika akan melepaskan pasukannya ke medan pertempuran ia akan mengatakan “SEMOGA kita menang!!!” mungkin jarang diperhatikan, namun kemana dan kepada siapa kata ‘Semoga’ yang bermuatan pengharapan itu ditujukan?
Bagi saya penyataan sikap tidak berTuhan merupakan wujud dari sifat egosentris yang meradang. Ego yang membutakan seseorang dari luasnya semesta kebenaran. Ego yang tanpa mereka sadari memperjelas sikap penuhanan mereka terhadap kebodohohan. kebodohan karena sikap tidak acuh dan lari dari bukti-bukti yang jelas dan nyata. Mereka adalah orang-orang yang terjebak dalam kajian-kajian tanpa penghayatan.
Karena itu, hingga saat ini saya berpendapat tidak ada manusia yang tak berTuhan..
Namun pertanyaan yang lebih penting dari ini semua adalah “kepada apa kita berTuhan???”

Binjai, 14 Agustus 2014
Ditulis untuk menjawab pertanyaan Ikhsan