• Kisah hidup Abraham/Ibrahim A.S. adalah contoh paling apik dari pencapaian spiritual manusia.
  • Jilbab, kerudung, hijab dan berbagai macam nama lain dari benda ini memang sesuatu yang tertulis di dalam teks Al-Quran dan Hadist, bahkan dapat dikatakan saat ini, bahwa Islam yang melegalisasi penggunaannya sehingga banyak kita lihat sehari-hari.
  • Beberapa waktu lalu media dihebohkan dengan salah satu berita penangkapan seorang Aktris bersuamikan pengusaha konglomerat yang diketahui menyalahgunakan narkoba. Alasannya sederhana, tekanan pekerjaan akibat pandemi.
  • Fenomena drakor dengan pecintanya yang menjamur di Indonesia cukup menarik. Umumnya para pecinta drakor adalah wanita (cewe-cwe) dengan kadar militansi yang berbeda-beda.
  • Download Materi Belajar JLPT/ Nihongo Nouryoku Shiken (Noken) N4- N5

Minggu, 03 Maret 2019

Adilkah Tuhan?


Sumber Gambar: Dokumentasi Pribadi
Jika mencoba melihat lebih peka keadaan diri dan lingkungan sosial kita, akan banyak sekali hal yang kita anggap kurang, bahkan tidak memuaskan. Hal-hal terkait dengan kemakmuran, kesejahteraan, kualitas hidup, kualitas spiritual dan lain sebagainya yang sering kita lihat di dalamnya banyak terjadi kesenjangan. Dalam hal demikian negeri ini tidak mungkin kehabisan contoh. Kita dapat melihat di satu tempat di negeri ini ada sekelompok orang yang sangat kaya, namun di tempat lain juga terdapat sekelompok orang yang sangat miskin. Banyak orang cerdas dengan gelar akademis yang menawan, tapi tak sedikit juga orang yang buta aksara. Ada banyak orang alim yang taat pada agama, tapi banyak juga orang tak peduli dengan Tuhannya. Semua ini terkadang menimbulkan pertanyaan dalam diri kita, "kenapa ya jalan hidup dan nasib orang berbeda-beda?. Kok rasanya Tuhan tidak adil ya? Ada yang hidupnya susah, tapi kok yang lain bahagia? Ada yang urusannya mudah, yang lain kok urusannya susah? Ada yang mudah menerima hidayah, yang lain kok susah? Dan banyak lagi. Intinya bertanya tentang di mana letak keadilan Tuhan. 

Hal seperti ini jika terus berkecamuk di pikiran, dapat menyeret kita pada "ke-galau-an spiritual". Karena kalau terus-menerus dibiarkan tanpa adanya jawaban yang memuaskan, bisa-bisa berujung pada sikap apatis, pesimisme dan fatalisme (terlalu pasrah dan mudah menyerah). 

Sebenarnya keadilan Tuhan tidak semua bisa diungkap dengan kata dan realitas empiris (sesuatu yang dapat diakses oleh indera). Tapi keadilan Tuhan bisa saja berupa satu realitas metafisis (sesuatu yang berada di luar jangkauan indera manusia) yang sengaja tidak diungkap dan disimpan-Nya. Oleh karena hal tersebut disimpan, Tuhan menjadi adil. 

Semisal ada seseorang yang hidupnya susah. Walau sudah bekerja keras, namun Tuhan belum juga mengubah nasibnya. Segala jalan telah ditempuh, namun tidak ada perubahan. Apakah Tuhan tidak adil? Karena banyak orang lain yang kadang hanya duduk-duduk di hotel dan restoran mewah bisa mendapatkan kontrak besar yang bisa kaya dengan mudah. 

Tentu Tuhan tetap adil. Ada rahasia yang hanya Dia yang tahu hikmahnya. Kalau coba mereka-reka, bisa saja hikmah itu ditafsirkan. Misalnya, andaikata dia diberi kemudahan dan dinaikkan derajatnya menjadi orang kaya, jangan-jangan orang ini bisa menjadi sombong atau lebih parah menjadi kufur. Bisa saja kekayaannya menyebabkan dia lupa pada Tuhan. Dengan kekayaannya justru dia berpotensi menjadi hamba durhaka yang tidak mau melaksanakan perintah Tuhan. Malah sebaliknya, kekayaannya dipergunakan untuk berbuat maksiat dan membuat kejahatan. 

Lihatlah, ada banyak orang kaya yang justru tidak bahagia. Hidup di rumah mewah, namun hatinya kosong. Setiap hari hidupnya susah dan gelisah. 
Sebaliknya, ada orang yang hidupnya sederhana atau relatif susah, tapi bahagia. Dia punya waktu banyak untuk beribadah. Ibadah membuat dia tenang dan lebih bahagia. Kedekatannya dengan sang maha pencipta membuat hidup terasa indah dan bermakna. 

Keadilan Tuhan tidak selalu harus dipertanyakan. Yakinlah Tuhan punya rencana di balik semua peristiwa yang terjadi pada hamba-Nya. Yakinlah bahwa Tuhan selalu mengasihi dan cinta pada seluruh hamba-Nya. Setiap makhluk di dunia, bahkan hewan dan tumbuhan pun tidak pernah luput dari anugerah dan kasih sayang-Nya. 

Kita tidak perlu bersedih tentang kegagalan, kesulitan dan pengalaman pahit yang pernah kita alami. Justru kita harus terus bangkit. Karena Man kana yaumuhu khairan min amsihi fahuwa rabihun.. (barang siapa yang hari ini lebih baik dari pada kemarin maka dia termasuk orang yang beruntung..). Jalanilah hari dengan hal-hal yang bermanfaat baik untuk diri sendiri, keluarga, teman dan bahkan bagi semua orang. 

Wallahua'lam.


Senin, 06 Agustus 2018

Terhanyut dalam Drakor

Beberapa waktu belakangan ini saya cukup sering melihat drama korea (DRAKOR). Sebenarnya bukan hanya baru-baru ini saja saya coba menonton film atau drama korea, beberapa tahun lalu saat drakor masih tayang di TV, saya sering terpaksa mengikuti drama korea karena remot TV di rumah saat itu dibajak total oleh kakak saya yang (dulu) hobi menonton drakor di TV.


Sumber Gambar: http://sinemapedia.com/inilah-kumpulan-meme-lucu-drama-korea-dari-beragam-genre-442-1

Fenomena drakor dengan pecintanya yang menjamur di Indonesia cukup menarik. Umumnya para pecinta drakor adalah wanita (cewe-cwe) dengan kadar militansi yang berbeda-beda. Ada pecinta garis wajar yang paling cuma senyam-senyum sendiri waktu nonton, ada juga pecinta garis keras yang histeris teriak-teriak waktu nonton. …LOL…

Jadi tulisan ini akan berisi ulasan subjektif saya sebagai penikmat drakor, dan uraian mini berkaitan dengan fenomena drakor yang sangat digandrungi di kalangan pecintanya di Indonesia. Poin-poin apa yang saya pikir menjadi titik unggul drakor dibandingkan dengan sinetron Indonesia. Harapanya kita dapat menilai lebih objektif fenomena para pecinta drakor. Tidak dengan justifikasi sepihak dengan mengatakan ‘alay’ atau ‘lebay’ tanpa ada upaya untuk secara objektif memahami bagaimana drakor itu sendiri.  

Dari beberapa judul drama yang saya tonton belakangan ini, digabungkan dengan pengalaman menonton drama-drama korea lainnya beberapa tahun lalu, untuk genre romance saya pikir ada pola yang selalu sama di dalamnya.
Jalan cerita pada drakor biasanya berfokus pada cerita tentang dua orang, laki-laki dan perempuan (belum pernah tahu drakor yang bercerita tentang pasangan sesame jenis haha) --mulai dari sini si laki-laki kita sebut si A, dan perempuan si B—

Prologue dimulai dengan si A dan B yang bertemu pada suatu momen tertentu atau keduanya sudah lama mengenal namun belum memiliki perasaan khusus. Lalu bersamaan dengan sebuah insiden, antara A dan B akan timbul benih-benih suka dan cinta, namun A atau B punya kendala dalam memahami isi hatinya, ragu-ragu, dan bingung untuk memastikan ataupun meneguhkan perasaan cintanya.

Biasanya proses hingga salah satu diantara si A dan B memantapkan diri dan perasaan satu sama lain untuk saling berhubungan, terjadi berkisar antara episode 4 sampai dengan 6. Khas drama korea, hal ini ditandai dengan keduanya saling berciuman atau berpelukan.

Selanjutnya akan datang karakter utama yang baru –kita sebut si C— yang kebanyakan datang dari masa lalu A atau B. Si C datang sebagai ujian cinta bagi A dan B. Si A atau B akan bertengkar, lalu di antara keduanya hampir-hampir akan tergoda pada C. Beberapa drakor bahkan menambahkan karakter D yang fungsinya hampir sama dengan si C. Tindakan C dan D biasanya juga punya keterkaitan hubungan ataupun dukungan dari pihak kerabat/keluarga A dan B.

Namun akhirnya semua ujian cinta akan berhasill dihadapi. Si C atau D akan dengan rela melepas A dan B untuk terus bersama. Tahap ini akan mulai terlihat di episode 10 untuk drakor dengan total episode belasan atau episode 26 pada drakor dengan total episode lebih dari 30. Dan akhirnya…. happy ending. Dari penilaian Ending cerita, drakor genre romance relatif lebih mudah ditebak, beda dengan drama Jepang yang kadang unpredictable. (tapi disini kita tidak jauh membandingkan dengan drama Jepang ya)

Pola-pola seperti ini akan muncul pada setiap genre romance drakor. Namun yang membedakannya adalah tema dan latar (setting) cerita. Misalnya tema kehidupan para dokter dengan latar lingkungan rumah sakit, tema pegawai perusahaan dengan latar kehidupan kantor dan sebagainya. Latar dan tema yang berbeda-beda ini akan menimbulkan problematika yang berbeda-beda pula. Ini lah yang seakan menjadi MSG (bumbu penyedap) dalam drakor.

Hal yang saya pikir jadi nilai plus untuk drakor adalah detil-detil latar yang sangat edukatif. Para penonton drakor akan diperkenalkan, atau bahkan seolah-olah dibawa masuk ke dalam latar cerita, misalnya dalam tema kehidupan polisi, penonton benar-benar akan melihat seluk beluk kehidupan seorang polisi dengan detil-detil profesi tersebut. Detil tersebut ditunjukkan melalui visual dan verbal tiap karakter. Gambaran kantor, penjara, senjata dll akan terlihat sangat natural dan nyata. Istilah-istilah  khusus dalam dunia kepolisian juga diucapkan secara jelas dengan tanggung jawab referensi yang sesuai. Cotoh lain misalnya dalam tema kedokteran, penonton akan dibawa mengenal kehidupan para dokter dan lingkungan rumah sakit. Suka duka menjadi dokter, istilah-istilah penyakit, alat-alat kedokteran dan sebagainya. Semua disampaikan secara jelas dan bertanggung jawab. Oleh karena itu penonton dicerdaskan dengan pengetahuan-pengetahuan baru. Ini yang saya maksud mengedukasi.

Berbeda jauh dengan sinetron Indonseia. Sinetron hanya focus pada prilaku karakter, terlihat dari dialog yang berlebih, serta detil latar yang tidak jelas. Dalam sinetron setiap karakter seolah kompak punya hobi yang sama, yaitu berdiri  berlama-lama dan berbicara saling tatap-tatapan. Beberapa sinetron kadang punya latar cerita di sebuah perusahaan, tapi tidak jelas perusahaannya apa, bergerak dibidang apa, bagaimana si karakter menjalani pekerjaannya, semua tidak dijelaskan detil. Tahu-tahu derektur bisa jatuh cinta begitu saja dengan karyawan, tahu-tahu perusahaannya bangkrut dan karakternya jatuh miskin tanpa kita ketahui alasan logis dan jelas mengenai bagaimana perusahaannya bisa bangkrut.

Selanjutnya dalam drakor Karakter antagonis (C & D) tidak statis dan konsisten sebagai karakter berwatak jahat, begitu pun dengan karakter protagonist yang tidak selalu berlaku baik. Hal ini menjadikan karakter-karakter dalam drakor terlihat lebih manusiawi. Berbeda dengan sinetron yang dalam ceritanya seolah-oleh membagi karakternya menjadi dua, malaikat dan iblis. Malaikat terus jadi malaikat dengan prilaku super sabar dan ikhlas ketika ditindas, serta iblis terus menjadi iblis dengan prilaku super menyebalkan dan jahatnya.
(Hahhh… pokoknya kalau membahas keganjilan sinetron Indonesia bisa habis puluhan halaman.. baiknya dibuat tulisan (postingan) khusus untuk ini. )

Lebih lanjut mengenai drakor, faktor ketampanan karakter pria yang ditampilkan akan membuat kita memaklumi para wanita (cewe-cewe) yang betah dan setia menonton tiap episodenya. (Meski tipikal mukanya seragam semua LOL)


So, intinya saya pikir drakor masih layak untuk ditonton. Apalagi jika pilihannya antara sinetron dan drakor, maka saya lebih sarankan kita menonton drakor. Alasan utamanya sederhana ‘Drakor lebih mendidik daripada sinetron.’ Namun sebaik apapun drakor dan seburuk apapun sinetron, kita harus sadari bahwa keduanya hanyalah kisah rekaan (fiksi). Kisah rekaan ini merupakan interpretasi harapan masyarakatnya. Harapan tentu berlawanan dengan kenyataan. Kita ketahui Amerika dikenal dengan film superhero-nya, ini karena masyarakatnya memiliki harapan akan adanya ‘superhero’ yang bisa memberi perlindungan pada mereka setiap saat ditengah tingginya angka kriminalitas di Amerika. Kalau kita melihat drakor menggambarkan hubungan yang sangat manis dan romantis yang membuat kita berbunga-bunga menontonnya, dapat kita asumsikan itu adalah harapan masyarakatnya dalam kehidupan nyata. Artinya dalam kehidupan nyata masyarakat Korea, percintaan tidak terjadi seindah apa yang kita lihat pada Drakor.


Teruusss, Indonesia dengan sinetronnya mengharapkan apa?????? Hayoooo …

Jumat, 08 April 2016

DETIK-DETIK TERAKHIR KEHIDUPAN RASULULLAH SAW


Pagi itu, meski langit mulai menguning di ufuk timur, burung-burung gurun enggan mengepakkan sayapnya. Rasulullah dengan suara lemah memberikan khutbah terakhirnya;
“Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya. Maka taati dan bertakwalah kepada-Nya. Kuwariskan dua perkara pada kalian, Al-Qur’an dan sunnahku. Barang siapa mencintai sunnahku, bererti mencintaiku dan kelak, orang-orang yang mencintaiku akan masuk syurga bersama-sama denganku.”
Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasul yang tenang menatap sahabatnya satu-persatu. Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca, dada Umar naik turun menahan nafas dan tangisnya. Usman menghela nafas panjang dan Ali menundukkan kepalanya dalam-dalam. “Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba Rasulullah akan meninggalkan kita semua!” bisik hati para sahabat saat menangkap pandangan mata orang yang sangat mereka cintai.

Sosok mulia itu hampir selesai menunaikan tugasnya di dunia. Tanda-tanda itu semakin terlihat saat Ali dengan sigap memeluk Rasulullah yang terlihat sangat lemah ketika melangkah turun dari mimbar. Saat itu, jika saja mereka mampu, maka seluruh sahabat yang hadir di sana pasti akan berusaha keras menahan detik-detik yang berlalu.

Matahari kian tinggi, tapi pintu rumah Rasulullah masih tertutup. Sedang di dalam, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan kening dan sekujur tubuh berkeringat membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya.

Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang mengucapkan salam lalu meminta izin untuk masuk. “Bolehkah saya masuk?” pintanya dengan santun. Namun Fatimah yang menemui tamu ayahnya itu tidak mengizinkannya masuk. “Maafkanlah wahai tuan, ayahku sedang sakit." kata Fatimah yang kemudian membalikkan badan dan menutup pintu kembali. "Tidak mengapa," kata tamu itu lagi dari balik pintu, "saya akan bersabar menunggu di sini sampai sahibul bait bersedia menemui tamunya." lanjutnya lembut. Lalu ia pun duduk di salahsatu sudut di depan rumah Rasulullah. Fatimah memperhatikannya sejenak, kemudian kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya, “Siapakah yang datang itu, wahai anakku?”

“Tidak tahu, ayah. Sepertinya baru kali ini aku melihatnya,” tutur Fatimah lemah lembut. Mendengar itu Rasulullah menatap puterinya dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bahagian demi bahagian dari wajah anaknya itu ingin dikenangnya baik-baik.

“Ketahuilah, anakku. Dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malaikat maut,” kata Rasulullah. "ijinkan ia masuk, dan katakan padanya bahwa aku sudah siap ... "

Mendadak hati Fatimah seakan luruh bagai gunung es yang tiba-tiba saja mencair. Namun sambil menahan ledakkan tangisnya, ia pun kemudian keluar mempersilakan sang tamu untuk masuk menemui ayahnya.

Saat melihat kedatangan tamunya itu, Rasulullah pun menanyakan mengapa Malaikat Jibril tidak menyertainya. Mendengar itu, maka atas ijin Allah SWT, dipanggilah Malaikat Jibril yang sebelumnya sudah bersiap untuk menyambut kedatangan ruh kekasih Allah dan penghulu dunia itu di langit.

Setelah mengetahui bahwa Malaikat Jibril telah berada di ruangan itu, maka Rasulullah pun berkata, “Wahai Jibril, jelaskan padaku apa saja hakku nanti di hadapan Allah?” pintanya dengan suara yang amat lemah.

“Pintu-pintu langit telah terbuka. Para malaikat telah menanti ruhmu. Sedangkan semua pintu surga terbuka lebar menanti kedatanganmu, ya, Rasulullah!” kata Malaikat Jibril.

Tapi, jawaban Jibril itu rupanya belum memuaskan hati Rasul, matanya masih memancarkan kekhawatiran dan tanda tanya. “Tidakkah engkau senang mendengar kabar ini, ya, Rasulullah?” tanya Malaiakat Jibril.

Seakan tak mengindahkan pertanyaannya, Rasulullah kembali berucap, “Kabarkanlah aku bagaimana nasib umatku kelak setelah aku tiada." pintanya.

“Jangan khawatir, wahai Rasul Allah. Aku mendengar Allah berfirman kepadaku: ‘Kuharamkan syurga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya,” kata Malaikat Jibril meyakinkannya. Mendengar itu Rasululullah pun kemudian diam.

Detik-detik kian mendekat hingga tibalah saatnya Izrail, sang Malaikat Maut, melakukan tugasnya. Setelah lebih dulu menanyakan kesiapan Rasul yang dijawab dengan isyarat sebagai tanda sudah, maka perlahan-lahan ruh Rasulullah pun ditarik oleh Malaikat Maut.

Tampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. “Wahai Izrail, betapa sakitnya sakaratul maut ini.” Perlahan terdengar desisan suara Rasulullah mengaduh.

Fatimah hanya mampu memejamkan matanya. Sementara Ali yang duduk di sampingnya hanya menundukan kepalanya semakin dalam. Malaikat Jibril pun memalingkan muka. “Jijikkah engkau melihatku hingga memalingkan wajah, wahai Jibril?” tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu.

“Siapakah yang sanggup menyaksikan kekasih Allah meregang nyawa?” kata Jibril sambil terus berpaling. Sedetik kemudian terdengar Rasulullah memekik karena sakit yang tidak tertahankan lagi. “Ya Allah, sungguh dahsyat rasa sakaratul maut ini! Hamba mohon timpakanlah semua siksa maut ini kepadaku saja, jangan pada umatku,” pinta Rasul pada Allah.

Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seperti hendak membisikkan sesuatu. Ali pun segera mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah. “Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku - peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu.”

Di luar pintu, tangis mulai terdengar bersahutan. Para sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan.

“Ummatii, ummatii, ummatiii ...... !!!” Terdengar ucapan terakhir Rasulullah sangat lirih, dan berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinar kemuliaan kepada umat manusia itu.

Hari ini, dapatkah kita mencintainya seperti beliau mencintai kita?

Allahumma sholli ‘ala Muhammad wa baarik wa salim ‘alaihi.

Betapa besar cinta Rasulullah kepada umatnya.



[Disadur dari http://pamanabu.blogspot.ae/2010/09/saat-saat-terakhir-rasulullah-saw.html?i ]



Sabtu, 15 November 2014

Ber-Tuhan tapi tidak be-ragama??

Sumber Gambar:http://www.quotesvalley.com/quotes/god/page/293/

Dalam tulisan sebelumnya saya mencoba membawa kita semua pada persepsi bahwa tidak ada manusia yang tak ber-Tuhan. Ber-Tuhan adalah konsekuensi bagi kita yang hidup. Dan bagaimana perwujudan Tuhan dalam kehidupan, semua itu diserahkan kepada diri kita masing-masing.
            Kemudian dari sini akan timbul pertanyaan, bagaimana kaitannya dengan agama? Apa kaitan Tuhan dengan Agama? Bagaimana jika menyatakan diri bertuhan namun menolak Agama?
Kita akan mulai dengan yang paling dasar tentang agama. Yaitu istilah dan  pengertiannya. Istilah agama berasal dari bahasa Sanskerta, āgama yang berarti ‘tradisi’. Dalam bahasa inggris agama disebut ‘religion’ yang berasal dari bahasa Latin religio dan berakar pada kata kerja re-ligare yang berarti "mengikat kembali". Maksudnya dengan beragama, seseorang mengikat dirinya kepada Tuhan. Agama adalah ajaran, sistem yg mengatur tata kepercayaan dan peribadatan kpd Tuhan serta tata kaidah yg berhubungan dengan pergaulan manusia dan manusia serta lingkungannya.



Kalau coba kita analogikan, jika bulan adalah Tuhan, maka serangkaian pelatihan dan aturan untuk menaiki pesawat ruang angkasa untuk ke bulan adalah ‘agama’.  Singkatnya, agama harus berisi tentang cara dan jalan yang membawa kita kepada Tuhan atau paling tidak lebih dekat dan mengenal Tuhan. Nah, bagaimana jika anda ingin ke bulan dan merasa siap pergi ke bulan namun prosedurnya dipersulit dengan berbagai hal yang tidak mencerminkan tujuan utama. Yaitu menuju bulan. Misalnya ketika anda ingin ke bulan anda malah diperintahkan belajar bernyanyi secara merdu setiap minggu. Tentu tidak ada hubungannya kan? Inilah analogi tentang fenomena keagamaan yang terjadi pada umat beragama sekarang. Segolongan manusia menyadari hal ini dan mulai merasa ada yang salah dengan agama dan berkembang pada pemikiran ‘tidak penting beragama’.



Percaya Tuhan dan tidak percaya dengan agama adalah pemikiran yang mulai banyak dianut masyarakat dunia lebih khusus pada para intelektual2 di barat dewasa ini. Mereka  lebih meyakini Tuhan dengan memilih jalan spiritualitas ketimbang agama. Ini  didasari pada kesadaran bahwa setiap manusia memiliki dimensi spiritualitas dalam dirinya. Dimensi spiritualitas yang pada dasarnya merupakan sebuah perjalanan dan pengembaraan ke dalam diri manusia sendiri, pengembaraan dalam upanya mengenal dimensi batin diri. Dimensi dimana kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi tak mampu menjangkaunya. Pada dimensi ini mereka akan merasa menemukan Tuhan.
Disisi lain persepsi masyarakat barat terhadap agama sekarang ini banyak dicemari oleh pengalaman kelam sejarah, dimana orang-orang yang mengaku pembesar agama menampilkan agamanya dengan mitos-mitos dan takhayul yang mengekang kebebasan berfikir dan ilmu pengetahuan. Agama dijadikan alat politik untuk memperoleh kekuasaan yang lalim. Agama yang pernah hadir dalam sosok seperti ini menjadi penyebab pemikir seperti August Comte secara radikal berkesimpulan bahwa dalam masyarakat saintifik agama tak lagi memiliki porsi yang diperhitungkan, bahkan dianggap sebagai sisa-sisa keterbelakangan dari masa lampau.
Sampai sekarang pun  degradasi Agama seperti ini masih tetap berlangsung. kebanyakan Agama sekarang terkesan hanya akan mengajak kita untuk terlibat dalam aturan-aturan yang rumit, perdebatan dan permusuhan dengan sesama. Dalam kasus lain agama hanya membawa kita pada gerakan ideologi terutup yang ekslusif. Sifat eksklusifitas agama ini cenderung membawa pada sifat tidak toleran dan Persaingan yang nantinya akan menjadi sumber derita bukan kedamaian, keselamatan dan kasih sayang. Beginilah beberapa anggapan orang yang berfikir agama tak lagi penting.
Seebagai contoh, Jika kita coba nyatakan kepada mereka misalnya, Islam adalah agama damai, dan mengapa tidak mencoba mendalaminya ?” mereka akan menjawab , “ maaf, yang kami kenal tentang umat islam adalah masyarakat yang tidak mencerminkan hidup damai. Secara fisik  mereka sangat senang bentrok dan secara intelektual sering mengesankan tidak toleran. Oleh karena itu kami kurang tertarik dengan agama, tetapi kami tetap merindukan Tuhan.”
            Dari sini coba Saya simpulkan bahwa percaya kepada Tuhan tanpa agama adalah suatu hal yang tidak dapat kita justifikasi sebagai suatu kesalahan. Tapi lebih kepada balasan atas ketidakmampuan orang yang mengaku beragama untuk menampilkan bahwa agama adalah jalan terbaik untuk mengatasi problematika dunia dan rahmat bagi semesta alam.
Saya hingga saat ini meyakini semua agama, baik agama wahyu ataupun bukan, semua pada akhirnya akan berdiri dihadapan sejarah untuk diuji. Sejarah akan menunjukkan hasil seleksinya, bahwa sebagian agama ternyata telah ditinggalkan  orang dan sebagian bertahan dengan modifikasi dan sebagian terus hidup tegak dan banyak pengikutnya. Kelak Kita hanya akan menjadi saksi untuk diri kita sendiri dan semua jalan yang kita pilih. BerTuhan namun Tidak beragama adalah pilihan yang juga harus kita hargai dan maklumi. Kemudian sebaliknya kita yang mengaku bertuhan dan beragama harusnya menampilkan jalan keberagaman yang baik, santun dan berperan aktif dalam kemaslahatan manusia dan lingkungan.
rahmatalill ‘alamin.*

Lagi-lagi Tuhan

-Abdul Ghafur-

Sumber Gambar : http://www.slideshare.net/mayanknaugaien/god-imagination-or-reality-v10-feb09


“aku tidak percaya tuhan...” jika ada yang berkata begini aku selalu terpancing untuk bertanya. “lantas apa yang kamu percaya di dunia ini?” dan apapun jawabanya aku pasti sudah mempersiapkan diriku untuk tersenyum dihadapan orang itu.
            Pernyataan ini sebenarnya bukanlah hal baru dalam sejarah kehidupan manusia. Nietzschen misalnya, seabad yang lalu ia berani mengatakan dengan tegas “gott is tot” (tuhan sudah mati) istilah ini menjadi populer dan masih didebatkan hingga sekarang.
Pernyataan Nietzschen ini sebenarnya dapat dipahami sebagai pengumuman akan kematian kehidupan spiritualnya beserta teman-teman yang senasib dengannya. Ini dikarenakan warisan agama yang mereka pahami tentang tuhan bukanlah hal yang mampu mendekatkan mereka pada keagungan, kedamaian, keindahan Ilahiah, melainkan suatu bentuk dongeng-dongeng, takhayul dan mitos yang tampak sebagai penghalang dalam kebebasan dan kreasi berfikir serta otonomi manusia.
            Sekarang kembali kepada pertanyaan “apa itu Tuhan?” kalau kita coba definisinkan secara umum, Tuhan adalah dzat yang maha ada yang menciptakan dan mengatur segala sesuatu yang ada dialam semesta. Pengertian ini lebih bersifat eksistensi. Namun jika lebih menyelam untuk pengertian yang lebih esensi, maka dari pengertian diatas juga terkandung bahwa Tuhan adalah segala sesuatu yang manusia persepsikan memiliki kekuatan dan kuasa yang melebihi  manusia sendiri.
Dari persepsi tersebut akan muncul sebuah keyakinan. Keyakinan akan bermetamorfosa menjadi keimanan ketika didalamnya tercakup kecintaan, ketakutan dan pengharapan.
Sehingga singkatnya, Tuhan adalah apa yang paling kita cintai, paling kita takuti dan paling kita berharap padanya. Dan ketiga hal ini sangat tidak mungkin tidak dimiliki oleh manusia di dunia. Ketiga hal ini bisa terpatri pada barang-barang dunia, seperti harta kekayaan, istri, anak, orang tua, akal, pemikiran bahkan diri sendiri. Semua bisa saja menjadi berhala-berhala yang dituhankan.  Seorang jendral yang mengaku atheis pun, ketika akan melepaskan pasukannya ke medan pertempuran ia akan mengatakan “SEMOGA kita menang!!!” mungkin jarang diperhatikan, namun kemana dan kepada siapa kata ‘Semoga’ yang bermuatan pengharapan itu ditujukan?
Bagi saya penyataan sikap tidak berTuhan merupakan wujud dari sifat egosentris yang meradang. Ego yang membutakan seseorang dari luasnya semesta kebenaran. Ego yang tanpa mereka sadari memperjelas sikap penuhanan mereka terhadap kebodohohan. kebodohan karena sikap tidak acuh dan lari dari bukti-bukti yang jelas dan nyata. Mereka adalah orang-orang yang terjebak dalam kajian-kajian tanpa penghayatan.
Karena itu, hingga saat ini saya berpendapat tidak ada manusia yang tak berTuhan..
Namun pertanyaan yang lebih penting dari ini semua adalah “kepada apa kita berTuhan???”

Binjai, 14 Agustus 2014
Ditulis untuk menjawab pertanyaan Ikhsan